Jakarta Ibukota, Tidak ada alasan mengijinkan bagi negara lain yang tujuannya membuat terancamnya kedepan rakyat indilonesia yang dibayang bayangi bom waktu atas rencana negara lain membangun ini itu dibalik mengorbankan masa depan rakyat ini tolong rumuskan Presiden RI Bapak H.Prabowo Subianto harus berani katakan tidak dan tolak demi kelangsungan rakyat Indonesia dimasa depan ujar Prof Dr Sutan Nasomal SH MH mengomentari adanya rencana Negara Singapura akan membangun Gua dibawah tanah guna menampung minyak dan gas dari negara tim-teng dengan jumlah jutaan meter barel menjawab pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media cetak onlen dalam luar negeri dikantornya markas pusat partai oposisi merdeka dibilangan Cijantung jakarta 29/102026 via telpon selulernya.
Prof DR Sutan Nasomal Meminta Presiden RI Bersikap Tegas kepada Singapura Hentikan Proyek Jurong Rock Cavers Karena Berbahaya Akibat Ancaman Gempa di masa depan yang bisa menghancurkan alam Indonesia dan masyarakat di sekitarnya. Kalau perlu siaga militer bila proyek tersebut di paksakan berjalan.
Sangat berbahaya bahwa Singapura adalah salah satu negara yang akan membangun gua di bawah tanah untuk menampung minyak dan gas dari negara Tim-Teng dengan jumlah jutaan meter barel. Padahal Singapura wilayah rentan bencana alam dengan gempa besar. Maka semua gua penampungan minyak dan gas akan pasti rusak dan bocor merusak semua laut darat dan udara Indonesia dan negara negara di wilayah Asia Tenggara. Ini ancaman serius yang tidak boleh di abaikan oleh Negara Indonesia.
Pemerintah Singapura harus memahami bahwa dampak dari gempa bisa terjadi dan mengancam keselamatan banyak manusia dan kehidupan di Asia tenggara bila proyek penampungan bahan bakar mentah dan gas di laksanakan di dalam gua di bawah tanah.
Jangan biarkan Singapura berbuat ceroboh yang bisa merugikan Negara Indonesia bila terjadi gempa dan bencana besar terjadi. Prof DR Sutan Nasomal SH,MH menyimak rencana Negara Singapura seperti dalam berita :
Jurong Rock Caverns berada di kompleks petrokimia dan kilang di selatan Singapura. Menurut situs JTC, lembaga pemerintah Singapura pemilik fasilitas itu, gua bawah tanah tersebut mampu menampung hingga 1,47 juta meter kubik hidrokarbon cair, termasuk minyak mentah dan kondensat. Kapasitas itu setara sekitar 9 juta barel minyak, tulis Bloomberg.
JRC tercatat sebagai proyek pekerjaan umum bawah tanah terdalam di Singapura sejauh ini. Fasilitas itu terdiri atas empat gua berkapasitas masing-masing 330 ribu meter kubik dan satu gua berkapasitas 150 ribu meter kubik. Total daya tampungnya 1,47 juta meter kubik, setara 9 juta barel, untuk minyak mentah, kondensat, minyak gas, hingga nafta.
Setiap gua setinggi sekitar 27 meter, kira-kira setara gedung sembilan lantai. Untuk membuatnya, lebih dari 3,5 juta meter kubik batuan digali dan terowongan sepanjang sembilan kilometer dibangun di bawah Banyan Basin. “Tingginya sekitar sembilan lantai, gua batu tanpa pelapis, dengan air yang terus merembes lewat retakan. Tidak ada yang seperti ini,” kata Alan Ling, Principal Project Manager Divisi Proyek Infrastruktur JTC, seperti dikutip dari laman resmi JTC
Kondisi lempengan bumi yang sedang bergerak terus dapat memicu gempa besar seperti yang pernah terjadi saat Aceh mengalami tsunami dengan kekuatan diatas 8 skala besar. Gua sekuat apapun bisa runtuh dan bocor bila di isi bahan bakar mentah atau gas menurut penilaian Prof DR Sutan Nasomal SH,MH sebagai pemerhati lingkungan di Utara sumatera yang jelas berdekatan dengan negara Singapura. Bila hal ini terjadi maka bencana bisa dua kali lebih besar dengan tumpahan bahan bakar mentah dan gas yang merusak samudra lautan Indonesia. Bila ada percikan api akan menjadi kebakaran yang luas di lautan Indonesia.
Presiden RI Prabowo Subianto harus menyikapi ini dengan serius dan membawa hal ini ke PBB karena ini bisa menjadi bencana besar akibat kecerobohan Negara Singapura yang tidak mengukur dampak resiko kedepannya.
Apa yang di lakukan negara Singapura dengan membuat gudang bahan bakar mentah dan gas di dalam gua di bawah laut bukan hal cerdas.
Bila rusak dan bocor ke lautan samudra Indonesia tak akan bisa di perbaiki lagi selama 50 tahun dampak pencemarannya. Kalau ada percikan api bisa merusak seluruh lautan Indonesia karena terbakar.
Narasumber : Prof DR Sutan Nasomal SH,MH


Social Header