Melalui: Makin Perdana Kusuma - Queensland, Rabu, 06 Agustus 2026.
Estimasi durasi: 4 menit.
Bahasa, yang seharusnya menjadi jembatan penghubung antar jiwa, kadang berubah menjadi kabut pekat yang menyesatkan. Dalam ruang akademik dan intelektual, jargonisme menjelma seperti wabah yang menyebar diam-diam, menular dari satu pikiran ke pikiran lain, meninggalkan kebingungan dan jarak sosial. “Jargonisme adalah penggunaan istilah berlebihan yang menciptakan eksklusivitas semu dan memisahkan mereka yang paham dari mereka yang tidak” (Bourdieu, 1991). Ia bukan sekadar gaya, melainkan virus epistemik yang menggerogoti kejernihan.
Akademisi muda dan intelektual pemula sering kali terjebak dalam pesona jargon. “Penggunaan jargon berlebihan lebih sering berfungsi sebagai alat legitimasi sosial daripada sarana komunikasi pengetahuan” (Hyland, 2004). Seolah-olah kata-kata rumit menjadi panggung untuk menunjukkan kehebatan, padahal yang terjadi hanyalah atraksi linguistik tanpa substansi. Wabah ini menular cepat, karena ego menemukan kenikmatan dalam akrobat kerumitan yang membingungkan orang lain.
Padahal, kearifan sejati justru terletak pada kemampuan menyederhanakan. “Ilmuwan besar seperti Einstein dan Feynman dikenang karena kemampuan mereka menjelaskan konsep rumit dengan bahasa sederhana” (Lehrer, 2010). Kesederhanaan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedalaman. Bahasa yang jernih adalah cahaya yang menembus kabut, membuka jalan bagi siapa pun untuk memahami.
Wabah jargonisme juga terkait dengan kebutuhan psikologis manusia. “Dalam kerangka Maslow, jargonisme dapat menjadi ekspresi dari kebutuhan akan self-esteem dan self-actualization” (Maslow, 1943/1996). Ketika aktualisasi diri berubah menjadi glorifikasi, bahasa kehilangan fungsi utamanya sebagai medium berbagi makna. Ia menjadi panggung narsistik, bukan ruang dialog, bukan bangku untuk berbagi ilmu.
Konklusi dari refleksi ini adalah bahwa kualitas intelektual tidak diukur dari seberapa banyak jargon yang digunakan, melainkan dari seberapa jelas pokok pikiran yang bermutu disusun. “Komunikasi akademik yang efektif adalah komunikasi yang mampu menjembatani kompleksitas dengan kejelasan” (Swales, 2014). Melawan wabah jargonisme berarti mengembalikan bahasa pada fungsinya: menyatukan, bukan memisahkan. Menjelaskan, bukan mengaburkan. Menyederhanakan, bukan merumitkan.
Pada akhirnya, jargonisme adalah epidemi intelektual yang tampak berkilau namun kosong di dalamnya. Kearifan sejati adalah kemampuan menyederhanakan tanpa mengurangi kedalaman, menjelaskan tanpa merendahkan, dan membuka pintu pemahaman bagi siapa pun yang ingin belajar. Di sanalah letak keindahan ilmu: bukan pada kerumitan kata, melainkan pada kejernihan makna yang meninggalkan jejak mendalam dalam kesadaran manusia, bukan menyayatkan kebingungan yang menganga.
------SELESAI------
Referensi:
• Bourdieu, P. (1991). Language and Symbolic Power. Harvard University Press.
• Hyland, K. (2004). Disciplinary Discourses: Social Interactions in Academic Writing. University of Michigan Press.
• Lehrer, J. (2010). The Decoding of Genius: Einstein and Feynman. Scientific American.
• Maslow, A. H. (1943/1996). A Theory of Human Motivation. Harper & Row.
• Swales, J. (2014). Genre Analysis: English in Academic and Research Settings. Cambridge University Press.
"MPK’s Literature-based Perspectives" Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)


Social Header