Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Queensland, 30 Juni 2026
Sejarah panjang keagamaan manusia adalah panggung besar di mana Tuhan terus berganti wajah, berganti nama, sementara manusia tetap mencari makna di balik tirai misteri. Manusia hanyalah musafir sesaat yang memahat bayangan keabadian pada dinding gua waktu, namun angin zaman yang perkasa akan selalu datang untuk menghapusnya dan menuntut pahatan yang baru. “Pergeseran dalam lanskap keagamaan global dan keruntuhan institusi teologis tradisional sering kali dipicu oleh ketidakmampuan dogma-dogmanya untuk menjawab tantangan eksistensial dan moral dari perkembangan peradaban manusia” (Bullivant, 2022). Maka, Tuhan dalam dimensi pemahaman manusia selalu berevolusi agar tetap selaras dengan denyut nadi zaman.
Dalam perspektif sosiologi agama, “lahirnya konsep ketuhanan baru pada setiap generasi dipicu oleh pencarian makna yang adaptif secara psikologis terhadap perkembangan sains, teknologi, dan etika global” (Campbell & Tsuria, 2021). Ketika ilmu pengetahuan menyingkap misteri kosmos, manusia tidak lagi puas dengan jawaban dogmatis yang statis. Mereka menuntut Tuhan yang mampu berdialog dengan akal, bukan sekadar melakukan ritual mekanistik-robotik yang kering, atau mengulang mantra. “Generasi muda sekarang cenderung menolak institusi keagamaan yang dianggap tidak relevan dengan tantangan jaman” (Campbell & Tsuria, 2021). Mereka lebih memilih spiritualitas yang fleksibel, yang mampu berdialog dengan sains, teknologi, ekonomi, dan etika global. Agama formal yang terlalu menekankan struktur sering kali kehilangan daya tarik, sementara spiritualitas personal menawarkan kebebasan untuk menemukan makna tanpa batasan institusional.
Kajian filsafat kontemporer menegaskan bahwa “keyakinan yang dianggap absolut pada hari ini pada dasarnya tunduk pada hukum perubahan sejarah yang tidak kenal kompromi” (Taylor, 2023). Tuhan yang dipahami secara antropomorfis (sosok) dan dogmatis akan kehilangan relevansi ketika justru menciptakan disintegrasi sosial dan alienasi eksistensial; menjadi sumber perpecahan dan peperangan, tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi dan degradasi ekologi. Generasi mendatang akan menolak visualisasi ketuhanan yang membatasi, dan memilih simbol-simbol spiritual yang lebih inklusif, universal, dan rasional.
Dalam ranah psikologi religius, “iman adalah mekanisme adaptif yang terus berevolusi mengikuti kebutuhan eksistensial manusia” (Pargament, 2013). Ketika masyarakat modern menghadapi krisis ekologi, ekonomi, teknologi, dan etika global, mereka akan menyalakan api altar baru dari percikan bintang yang berbeda. Tuhan yang mereka pahami bukan lagi sosok yang terikat pada dogma lama, melainkan misteri yang hidup dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
Konklusinya, Tuhan yang sejati mungkin tidak pernah berubah, namun tuhan-tuhan dalam tempurung kepala manusia harus bersiap untuk mati berkali-kali. “Makna yang lebih hidup dan relevan hanya dapat lahir dari keberanian untuk melepaskan simbol lama dan menciptakan simbol baru” (Ward, 2016). Dengan demikian, agama bukanlah monumen beku, melainkan arus yang terus bergerak mengikuti denyut nadi sejarah.
Maka, biarkanlah anak-cucu kita nanti menyalakan api altar mereka sendiri, menamai keheningan semesta dengan bahasa yang tidak bisa kita mengerti dengan keyakinan kita saat ini, dan biarkan mereka menemukan kedamaian dalam dekapan misteri yang baru. Tuhan yang sejati tetap hadir sebagai cahaya abadi, namun manusia harus menerima bahwa segala representasi tentang-Nya hanyalah bayangan sementara. “Tuhan-tuhan dalam pikiran manusia harus mati berkali-kali, agar manusia menemukan diri sejati dalam perjalanan pulang ke dalam misteri yang tak bermula-tak bertepi dan tak pernah usai.”
Referensi:
• Bullivant, S. (2022). Nonverts: The Making of Ex-Christian America. Oxford University Press.
• Campbell, H. A., & Tsuria, R. (2021). Digital Religion: Understanding Religious Practice in Digital Media. Routledge.
• Taylor, C. (2023). A Secular Age and the Future of Spirituality. Harvard University Press.
• Pargament, K. I. (2013). The Psychology of Religion and Coping: Theory, Research, Practice. Guilford Press.
• Ward, K. (2016). The Evolution of Religion: A New Theory. Cambridge University Press.
=============================
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
=============================
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header