Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 26 Mei 2026
Dunia tidak pernah berjanji untuk menjadi taman yang tenang. Dan sejarah telah membuktikan hal itu. Ia adalah panggung besar tempat gunung meletus, meteor jatuh, badai, dan air bah menelan daratan. Di dalamnya juga terdapat peperangan, penyakit, manusia yang menangis, tertawa, sakit, dan mati—semuanya bagian dari simfoni semesta yang tidak pernah berhenti berdetak. “Keteraturan dan kekacauan adalah dua sisi dari satu realitas kosmik yang saling melengkapi” (Capra, 1996). Dalam setiap gempa bumi, ada denyut kehidupan yang sedang menata ulang dirinya; dalam setiap badai, ada energi yang sedang mencari keseimbangan baru. Dunia tidak rusak—ia hanya sedang bekerja sebagaimana mestinya.
Manusia mengira alam semesta yang luasnya tak terhingga ini hanya untuknya, harus melayaninya, harus selalu berbaik padanya. Ketika manusia menyebut bencana sebagai tragedi, ia sebenarnya sedang menilai dari sudut ego yang ingin agar dunia tunduk pada keinginannya akan kenyamanan. “Manusia cenderung menilai alam dari perspektif antroposentris, berangkat dari kepentingan manusia, bukan dari keseimbangan ekologisnya” (Naess, 1989). Padahal, gunung yang meletus bukanlah murka, melainkan proses regenerasi bumi. Meteor yang jatuh bukanlah kutukan, melainkan bagian dari tarian gravitasi yang menjaga harmoni galaksi. Alam tidak mengenal baik dan buruk; ia hanya mengenal keberlangsungan.
Dalam pandangan ekopsikologi, penderitaan manusia sering kali muncul karena ketidaksinkronan antara ritme batin dan ritme alam. “Ketika manusia memisahkan dirinya dari siklus alami, ia kehilangan makna eksistensialnya” (Roszak, 2001). Orang yang sakit, sedih, atau stres bukanlah anomali kehidupan, melainkan ekspresi dari dinamika energi yang sedang mencari keseimbangan. Sama seperti bumi yang berguncang untuk menata ulang lempengnya, jiwa manusia pun bergetar untuk menata ulang kesadarannya.
Peperangan pun bagian dari denyut semesta yang sama. “Konflik adalah ekspresi dari ketegangan evolusioner antara kehendak hidup dan kehendak kuasa” (Hobbes, 1651). Dalam peperangan, manusia memperlihatkan sisi paling purba dari naluri bertahan hidup. Ia bukan sekadar kehancuran, tetapi juga cermin dari dorongan untuk menata ulang struktur sosial dan moral yang stagnan. Sejarah menunjukkan bahwa dari reruntuhan perang, lahir kesadaran baru tentang perdamaian, teknologi, dan solidaritas. “Perang, meski destruktif, sering menjadi katalis perubahan peradaban” (Tilly, 1990). Maka, perang bukanlah kesalahan alam, melainkan bagian dari drama manusia yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.
Filsafat eksistensial menegaskan bahwa penderitaan adalah bagian dari keutuhan pengalaman manusia. “Tanpa penderitaan, manusia tidak akan mengenal kedalaman makna hidup” (Frankl, 1959). Dunia yang sempurna tanpa kesedihan akan menjadi dunia yang mati, karena tidak ada gerak, tidak ada perubahan, tidak ada pembelajaran. Justru dalam ketidaksempurnaan, manusia menemukan ruang untuk tumbuh, untuk memahami, dan untuk menyerah pada kenyataan yang lebih besar dari dirinya.
Konklusi dari perenungan ini adalah bahwa dunia tidak perlu baik-baik saja untuk menjadi indah. “Keteraturan muncul dari kekacauan, dan kehidupan tumbuh dari kehancuran” (Prigogine & Stengers, 1984). Alam semesta tidak pernah salah dalam caranya menyeimbangkan diri. Yang keliru adalah cara manusia menilai proses itu dengan label moral yang sempit.
Pada akhirnya, dunia adalah drama yang terus berlangsung tanpa naskah yang bisa ditebak. Ia menulis dirinya sendiri melalui letusan, tangisan, peperangan, dan kelahiran. “Realitas semesta adalah tarian energi yang terus berubah, dan drama manusia hanyalah satu noktah kecil di dalamnya” (Bohm, 1980). Dunia tidak harus baik-baik saja—ia hanya perlu terus ada, terus bergerak, terus menjadi dirinya sendiri. Di sanalah keanggunan spiritual sejati berdiam: dalam keberanian untuk menerima bahwa segalanya terjadi apa adanya.
Referensi:
• Bohm, D. (1980). Wholeness and the Implicate Order. London: Routledge.
• Capra, F. (1996). The Web of Life: A New Scientific Understanding of Living Systems. New York: Anchor Books.
• Frankl, V. E. (1959). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.
• Hobbes, T. (1651). Leviathan. London: Andrew Crooke.
• Naess, A. (1989). Ecology, Community and Lifestyle: Outline of an Ecosophy. Cambridge: Cambridge University Press.
• Prigogine, I., & Stengers, I. (1984). Order Out of Chaos: Man’s New Dialogue with Nature. New York: Bantam Books.
• Roszak, T. (2001). The Voice of the Earth: An Exploration of Ecopsychology. Grand Rapids: Phanes Press.
• Tilly, C. (1990). Coercion, Capital, and European States, AD 990–1990. Oxford: Blackwell.
________________________________________
MPK’s Literature-based Perspectives
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header