Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma - Queensland, 24 Mei 2026
Dalam panggung batin manusia, susah dan senang bukanlah aktor yang berdiri sendiri, melainkan bayangan yang lahir dari tafsir pikiran. Pikiran yang melakukan perbandinganlah yang memberi bobot pada kesusahan maupun kesenangan. Seperti cahaya dan bayangan yang saling menegaskan, rasa susah muncul ketika pikiran menilai bahwa keadaan lebih buruk dibanding harapan, sementara rasa senang hadir ketika pikiran menilai bahwa keadaan lebih baik dari perkiraan. “Perasaan manusia adalah hasil dari perbandingan antara ekspektasi dan kenyataan” (Rahardjo, 2024).
Ketika seseorang merasa hidupnya penuh kesulitan, sesungguhnya ia sedang menimbang realitas dengan ukuran yang diciptakan oleh pikirannya sendiri. Pikiran membesar-besarkan beban, menjadikannya gunung yang sulit didaki. Sebaliknya, saat senyum merekah karena kebahagiaan, itu pun lahir dari pikiran yang memberi nilai pada suatu keadaan sebagai “berharga” atau “memuaskan”, baik didasarkan pada ukuran/harapan yang diciptakan sendiri, maupun secara tak sadar meminjam ukuran/norma sosial yang berlaku. “Emosi positif maupun negatif berakar pada interpretasi kognitif individu terhadap peristiwa, bukan karena peristiwa itu sendiri” (Santoso, 2023).
Dalam psikologi kontemporer, konsep cognitive appraisal menjelaskan bahwa manusia tidak bereaksi langsung terhadap peristiwa, melainkan terhadap makna/nilai/ bobot yang dia ciptakan dan dia berikan pada peristiwa itu. “Makna/nilai/bobot yang dilekatkan pada pengalaman menentukan intensitas emosi yang muncul” (Lazarus, 2022). Maka, susah dan senang bukanlah realitas objektif, melainkan hasil permainan pikiran yang mengatur panggung kehidupan. Manusia dihibur dan disakiti oleh pikirannya sendiri.
Memori dan imajinasi/fantasi juga menjadi sutradara yang menentukan intensitas rasa, sebab mereka menjadi timbangan pencipta makna/nilai/bobot atas peristiwa yang terjadi secara riil di saat ini, atau sebaliknya. “Kenangan masa lalu sering kali menjadi sumber penderitaan atau kebahagiaan yang berulang, sementara imajinasi dan fantasi menciptakan proyeksi masa depan yang bisa menimbulkan harapan atau kecemasan” (Hurlburt & Heavey, 2023). Pikiran yang terikat pada memori traumatis akan lebih mudah merasakan susah, sedangkan pikiran yang larut dalam fantasi indah akan lebih mudah merasakan senang. “Konstruksi mental dari memori dan imajinasi menentukan kualitas pengalaman emosional manusia” (Putra, 2024). Padahal peristiwa yang telah menjadi memori sebenarnya sudah tidak ada, dan gambaran peristiwa dalam imajinasi pun juga belum ada. Tapi sebagian besar manusia menjadikannya timbangan pencipta makna/nilai/bobot sebagai dasar untuk menderita atau bahagia di saat ini.
Filsafat eksistensial menegaskan bahwa penderitaan dan kebahagiaan adalah pilihan kesadaran. “Manusia bebas menafsirkan penderitaan sebagai jalan menuju makna, atau kebahagiaan sebagai ilusi yang fana” (Frankl, 2021). Dengan demikian, susah dan senang hanyalah dua wajah dari satu koin yang sama: pikiran yang menafsirkan.
Konklusi dari perenungan ini adalah bahwa manusia memiliki kuasa untuk menggeser tafsirnya. Susah bisa dipandang sebagai peluang untuk tumbuh, senang bisa dipandang sebagai jeda untuk bersyukur. “Transformasi makna adalah inti dari resiliensi psikologis” (Wijaya, 2025). Dengan mengubah cara berpikir, manusia mengubah kualitas hidupnya.
Pada akhirnya, ruang refleksi ini mengajak kita untuk menyadari bahwa segala rasa hanyalah permainan pikiran. Susah dan senang tidak lebih dari bayangan yang menari di layar kesadaran. Jika pikiran adalah panggung, maka kita adalah sutradara yang menentukan drama apa yang akan dimainkan. “Kesadaran manusia adalah kuasa yang mampu melampaui tafsir semu dan menemukan kedalaman makna” (Nugroho, 2024). Di sinilah jejak yang dalam ditinggalkan: bahwa hidup bukan tentang menghindari susah atau mengejar senang, melainkan tentang memahami bahwa keduanya hanyalah permainan pikiran yang bisa kita kendalikan. Dan, tumbuhnya kemampuan untuk senantiasa menyadari permainan pikiran itu lah yang disebut dengan pembebasan, pencerahan, kebangkitan ruhani. Itu lah gerbang menuju jalan pulang.
Referensi:
• Rahardjo, B. (2024). Psikologi Kesadaran dan Tafsir Realitas. Jakarta: Pustaka Nusantara.
• Santoso, D. (2023). Emosi dan Kognisi: Perspektif Psikologi Modern. Bandung: Alfabeta.
• Lazarus, R. (2022). Cognitive Appraisal Theory in Emotion. New York: Academic Press.
• Hurlburt, R., & Heavey, C. (2023). Exploring Inner Experience: Memory and Imagination. London: Routledge.
• Putra, A. (2024). Memori, Imajinasi, dan Emosi Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
• Frankl, V. (2021). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.
• Wijaya, A. (2025). Resiliensi dan Transformasi Makna. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
• Nugroho, S. (2024). Kesadaran dan Makna Hidup. Surabaya: Airlangga University Press.
________________________________________
MPK’s Literature-based Perspectives
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis Husin Allahdji


Social Header