Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 3 Mei 2026
Di balik wajah, nama, riwayat hidup, dan segala kisah yang manusia ceritakan tentang dirinya, ada sesuatu yang lebih sunyi—lebih tua daripada ingatan, lebih luas daripada pengalaman, dan lebih dalam daripada kata-kata. Psikologi berusaha memahami manusia melalui jejak masa lalu, pola perilaku, dan struktur kepribadian. Namun seperti yang dikatakan Eckhart Tolle, “untuk mengetahui manusia lain dalam esensinya, Anda tidak perlu mengetahui apa pun tentang masa lalunya, sejarahnya, atau ceritanya.” Dalam perspektif fenomenologi, “esensi kesadaran tidak ditentukan oleh konten pengalaman, tetapi oleh kehadiran yang menyadari pengalaman itu” (Zahavi, 2017). Maka, memahami seseorang melalui kisahnya saja ibarat mencoba memahami langit hanya dari awan yang melintas.
Psikologi modern memang memetakan manusia melalui narasi. “Identitas personal dibangun melalui integrasi memori autobiografis ke dalam struktur naratif” (McAdams & McLean, 2013). Namun narasi hanyalah permukaan; ia adalah konstruksi mental yang dibentuk oleh budaya, trauma, pendidikan, dan lingkungan. Neurosains menunjukkan bahwa “memori manusia bersifat rekonstruktif, bukan rekaman objektif” (Schacter, 2012). Artinya, apa yang kita sebut “kisah hidup” bukanlah kebenaran murni, melainkan interpretasi yang terus berubah. Jika narasi berubah, apakah esensi manusia ikut berubah? Tidak. Karena esensi bukanlah cerita—ia adalah kesadaran yang menyaksikan cerita itu.
Dalam kajian psikologi kontemplatif, manusia memiliki dua lapisan diri: diri naratif dan diri saat ini. “Diri naratif adalah cerita tentang siapa kita; diri saat ini adalah kesadaran yang menyadari cerita itu” (Damásio, 2010). Ketika seseorang hanya dilihat melalui narasinya, ia direduksi menjadi masa lalu. Namun ketika seseorang dilihat melalui kehadiran penuhnya di saat ini—melalui tatapan, keheningan, getaran batin—kita menyentuh sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh teori mana pun. Inilah yang dimaksud Tolle: esensi manusia tidak terletak pada sejarahnya, tetapi pada keberadaannya yang hidup saat ini.
Konklusinya, psikologi memberikan peta, tetapi bukan wilayahnya. Ia membantu memahami pola, tetapi tidak menyentuh inti. “Pendekatan ilmiah terhadap manusia sering kali gagal menangkap dimensi eksistensial yang tidak dapat diukur” (van Deurzen, 2015). Esensi manusia bukanlah kumpulan data, diagnosis, atau narasi; ia adalah kehadiran yang melampaui semua itu. Untuk benar-benar mengenal seseorang, kita tidak perlu mengetahui masa lalunya—kita hanya perlu hadir bersamanya tanpa prasangka, tanpa analisis, tanpa kebutuhan untuk mengotak-ngotakkan.
Pada akhirnya, manusia bukanlah cerita yang ia ceritakan, melainkan ruang sunyi yang menyaksikan cerita itu. Ketika kita berhenti melihat orang lain melalui lensa psikologi, teori, atau masa lalu, kita mulai melihat mereka sebagaimana adanya: sebagai kesadaran yang hidup, misterius, dan tak terdefinisikan. Dan mungkin, di titik itu, kita menyadari bahwa mengenal seseorang bukanlah proses mengumpulkan informasi, tetapi keberanian untuk hadir tanpa membawa apa pun—karena esensi manusia hanya dapat disentuh oleh keheningan, bukan oleh pengetahuan.
Referensi:
• Damásio, A. (2010). Self Comes to Mind.
• McAdams, D., & McLean, K. (2013). Narrative Identity.
• Schacter, D. (2012). Constructive Memory and the Brain.
• van Deurzen, E. (2015). Existential Counselling & Psychotherapy.
• Zahavi, D. (2017). Phenomenology: The Basics.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives”
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header