Breaking News

SUWUNG, SUNYATA, KEKOSONGAN: TAK SESERAM TERMINOLOGINYA


Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 9 Maret 2026

Kekosongan selalu hadir sebagai destinasi dalam ajaran spiritual dari berbagai bangsa—dari sunyinya Himalaya, heningnya gurun Persia, sampai lembutnya samudra Nusantara. Namun kekosongan bukanlah kehampaan yang menakutkan; ia adalah ruang bening tempat manusia kembali mengenali dirinya. Dalam jeda di antara dua napas, dalam celah kecil antara satu pikiran dengan pikiran berikutnya, dalam keheningan yang menyelinap di antara denyut satu perasaan dengan perasaan lainnya—di sanalah inti ajaran spiritual dunia berdiam. Banyak tradisi menegaskan bahwa “kekosongan adalah ruang kesadaran yang tidak terikat oleh pikiran” (Gunaratana, 2015). Kekosongan bukan jauh, bukan asing, bukan milik para pertapa belaka; ia hadir di celah-celah kecil yang selalu kita lewatkan tanpa sadar.

Ajaran spiritual dari berbagai benua/budaya sering tampak misterius karena bahasa, terminologi, dan simbolnya yang asing. Namun esensinya sama: menemukan ruang hening di dalam diri. Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa “praktik hening dan jeda mental menurunkan aktivitas jaringan pikiran otomatis” (Brewer et al., 2019). Artinya, kekosongan bukanlah konsep metafisik yang rumit, melainkan kondisi biologis dan psikologis yang dapat dilatih. Ketika seseorang berhenti sejenak dari arus pikiran, tubuh, dan emosi, ia memasuki ruang yang lebih luas dari identitas sehari-hari.

Dalam psikologi modern, jeda atau pause dipahami sebagai kemampuan untuk mengamati pengalaman tanpa bereaksi. Literatur neurokognitif menyatakan bahwa “jeda kesadaran memberi kesempatan bagi otak untuk mengatur ulang respons emosional dan hormonal” (Siegel, 2020). Jeda ini bukanlah penghentian total aktivitas, melainkan ruang kecil di antara impuls dan tindakan. Ketika seseorang mampu melihat dorongan hormonal, aliran energi tubuh, atau pikiran yang muncul tanpa langsung mengikutinya, ia sedang memasuki kekosongan yang diajarkan oleh para guru spiritual sejak ribuan tahun lalu.

Kekosongan juga dapat dipahami sebagai kemampuan untuk berada di antara dua gerak: antara pikiran dan pikiran berikutnya, antara emosi dan reaksi, antara dorongan dan tindakan. Penelitian mindfulness menunjukkan bahwa “ruang jeda yang diperluas meningkatkan regulasi diri dan kejernihan batin” (Keng, Smoski, & Robins, 2011). Ketika jeda ini semakin terlatih, ia tidak lagi muncul sebagai momen singkat, tetapi menjadi keadaan yang stabil. Kekosongan bukan lagi kunjungan sesaat, melainkan rumah batin yang dapat didatangi dan dihuni kapan saja.

Semua ajaran spiritual, dari Timur hingga Barat, pada akhirnya mengarah pada satu hal: kemampuan untuk memasuki ruang hening di dalam diri. Kekosongan bukanlah tujuan yang jauh, bukan pencapaian mistik yang tersembunyi, bukan pula keadaan yang hanya dimiliki oleh para sufi, yogi, atau biksu. Kekosongan adalah celah kecil yang selalu hadir—di antara napas, di antara pikiran, di antara perasaan. Ketika celah itu dilatih, ia melebar; ketika ia melebar, ia menjadi stabil; ketika ia stabil, manusia menemukan kebebasan dari arus batin yang selama ini menguasainya.

Pada akhirnya, kekosongan adalah pulang ke ruang terdalam diri—ruang yang tidak tersentuh oleh pikiran, tidak terombang-ambing oleh emosi, tidak digerakkan oleh dorongan tubuh. Di sana, manusia menemukan dirinya sebagai kesadaran yang luas, bukan sebagai gelombang pikiran yang datang dan pergi. “Kekosongan adalah ruang tempat manusia melihat dirinya dengan jernih” (Nhat Hanh, 2017). Dan ketika seseorang mampu tinggal di ruang itu, walau hanya sekejap, ia menemukan bahwa kebebasan bukanlah sesuatu yang dicari, melainkan sesuatu yang selama ini menunggu di dalam jeda.

Referensi:
• Brewer, J. A., et al. (2019). Mindfulness training and default mode network regulation.
• Gunaratana, B. (2015). The Four Foundations of Mindfulness.
• Keng, S., Smoski, M., & Robins, C. (2011). Effects of mindfulness on psychological well-being.
• Nhat Hanh, T. (2017). Silence: The Power of Quiet in a World Full of Noise.
• Siegel, D. (2020). The Developing Mind.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives” 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis Husin Allahdji
© Copyright 2022 - JEJAKKASUSGROUP.CO.ID