Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 25 Februari 2026.
Sangat banyak orang beragama yang merasa dan mengira (“ge-er”) bahwa Tuhan seagama dengannya, Tuhan hanya membela dan melindungi orang-orang yang segolongan, yang seagama dengannya. Dan sebaliknya, dari sisi manusia, ada paradoks yang sering muncul dalam narasi keagamaan: “membela agama Allah.” Kata-kata itu terdengar gagah, penuh semangat, seolah manusia sedang menjaga sesuatu yang rapuh. Namun, jika direnungkan dengan hati yang tenang, muncul pertanyaan mendasar: untuk apa membela agama Allah? Tuhan tidak beragama. Tuhan tidak menyembah siapa pun, tidak tunduk pada aturan, tidak membutuhkan ibadah. "Agama adalah jalan manusia menuju Tuhan, bukan kebutuhan Tuhan atas manusia" (Nasr, 2022). Maka, membela agama sesungguhnya bukan membela Tuhan, melainkan membela interpretasi manusia tentang jalan menuju-Nya.
Agama lahir sebagai sistem nilai, aturan, dan ritual yang membantu manusia menata hidup. "Agama adalah konstruksi sosial yang berfungsi sebagai pedoman moral dan kohesi komunitas" (Berger & Luckmann, 2019). Tuhan tidak membutuhkan agama, sebab Tuhan adalah sumber segala sesuatu. Justru manusia yang membutuhkan agama untuk mengarahkan perilaku, menenangkan hati, dan membangun keteraturan sosial. Membela agama, dengan demikian, adalah membela tata nilai yang menuntun manusia, bukan membela Tuhan yang Maha Kuasa.
Psikologi agama menegaskan bahwa praktik keagamaan lebih berfungsi sebagai terapi eksistensial. "Ibadah dan ritual keagamaan membantu manusia mengatasi kecemasan, memberi makna, dan memperkuat identitas diri" (Koenig, 2020). Maka, ketika seseorang berkata “membela agama Allah,” sesungguhnya ia sedang membela ruang makna yang ia butuhkan untuk hidup. Tuhan tidak berkurang sedikit pun jika manusia meninggalkan agama, tetapi manusia akan kehilangan arah jika ia menolak nilai yang ditawarkan agama.
Dalam perspektif filsafat, Tuhan adalah realitas transenden yang tidak bisa dibatasi oleh kategori manusia. "Tuhan tidak beragama, sebab agama adalah bahasa manusia untuk memahami yang tak terjangkau" (Schuon, 2019). Tuhan adalah Tuhan semesta alam, bukan Tuhan golongan tertentu. Agama hanyalah jalan yang berbeda-beda, simbol yang beragam, namun semuanya menuju satu sumber. Membela agama berarti membela simbol, bukan membela Tuhan. Dan simbol itu penting bagi manusia, sebab tanpa simbol, manusia kehilangan cara untuk menyentuh misteri.
Konklusi dari refleksi ini adalah bahwa membela agama bukanlah membela Tuhan, melainkan membela kebutuhan manusia akan arah, makna, dan keteraturan. "Agama adalah jembatan manusia menuju transendensi, bukan kebutuhan transendensi itu sendiri" (Armstrong, 2021). Tuhan tidak membutuhkan pembelaan, sebab Tuhan adalah sumber kekuatan. Manusia yang membutuhkan agama, sebab manusia rapuh dan terbatas. Tuhan adalah Tuhan semesta alam, bukan Tuhan golongan tertentu.
Pada akhirnya, kita diajak untuk merenung: janganlah kita terjebak dalam ilusi bahwa Tuhan membutuhkan pembelaan. Tuhan tidak beragama, tidak tunduk pada aturan, tidak beribadah. Tuhan adalah sumber segala aturan, bukan subjek dari aturan. Tuhan adalah Tuhan semesta alam, bukan Tuhan golongan tertentu. Maka, membela agama sesungguhnya adalah melindungi ego, membela diri kita sendiri, membela golongan kita, membela simbol, membela nilai yang menuntun kita agar tidak tersesat. Tuhan tidak butuh kita, tetapi kita selalu butuh Tuhan. Dan agama adalah salah satu jalan untuk mengingat itu.
Referensi:
• Nasr, S. H. (2022). Religion and the Order of Nature. Oxford: Oxford University Press.
• Berger, P. L., & Luckmann, T. (2019). The Social Construction of Reality. London: Penguin Books.
• Koenig, H. G. (2020). Religion and Mental Health: Research and Clinical Applications. San Diego: Academic Press.
• Schuon, F. (2019). Understanding Islam. Bloomington: World Wisdom.
• Armstrong, K. (2021). The Case for God. New York: Knopf.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header