Breaking News

Komitmen Impor Kedelai 3,5 Juta Ton, Produksi Lokal Berdebar


Mahasiswa Pancasila — Rencana kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat yang mencakup komitmen impor kedelai hingga 3,5 juta ton per tahun menuai perhatian kalangan mahasiswa. Angka tersebut dinilai melampaui kebutuhan nasional yang berada di kisaran 2,7–2,9 juta ton per tahun.

Mahasiswa Pancasila sebagai pengawas kebijakan publik menilai, langkah kerja sama perdagangan internasional memang bagian dari strategi stabilisasi pasokan dan harga. Namun, potensi kelebihan pasokan harus dihitung secara cermat agar tidak berdampak langsung pada pelaku usaha dan petani lokal.
Ketua Umum Mahasiswa Pancasila, Verga Aziz, menyampaikan bahwa kebijakan impor yang melampaui kebutuhan domestik berisiko menekan harga di tingkat produsen.

Jika pasokan melebihi kebutuhan, hukum pasar bekerja. Harga bisa jatuh, dan yang pertama terpukul adalah petani serta pelaku usaha lokal. Ini bukan sekadar soal neraca dagang, tetapi soal keberlanjutan produksi nasional,” tegas Verga dalam keterangannya.

Selama ini, kebijakan impor pangan berada dalam koordinasi sejumlah kementerian, termasuk Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dengan pelibatan BUMN pangan seperti Perum Bulog dalam pengelolaan stok dan stabilisasi harga.

Mahasiswa menilai, setiap komitmen internasional harus tetap menempatkan kepentingan produksi dalam negeri sebagai prioritas utama. Terlebih, kedelai merupakan bahan baku strategis bagi industri tempe dan tahu yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas.

Kerja sama internasional penting, tetapi kedaulatan pangan tidak bisa dinegosiasikan hanya dengan angka komitmen. Negara harus memastikan bahwa kebijakan perdagangan tidak mematikan insentif produksi dalam negeri,” lanjutnya.

Mahasiswa Pancasila mendorong pemerintah untuk:
1. Membuka secara transparan detail komitmen impor dan skema realisasinya.
2. Menyusun kebijakan buffer stock yang adaptif terhadap produksi lokal.
3. Memberikan perlindungan harga bagi petani kedelai domestik.
4. Melakukan evaluasi berkala terhadap dampak impor terhadap kesejahteraan produsen nasional.

Verga menegaskan, stabilitas pasokan memang krusial, namun ketahanan dan kedaulatan pangan jauh lebih strategis dalam jangka panjang.

Jangan sampai demi stabilitas jangka pendek, kita mengorbankan daya hidup produksi lokal. Impor boleh menjadi instrumen, tetapi produksi nasional harus tetap menjadi fondasi,” pungkasnya.

Mahasiswa Pancasila menyatakan akan terus mengawasi arah kebijakan perdagangan dan pangan nasional agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat dan keberlanjutan ekonomi domestik.

Narasumber : Ketua Umum Mahasiswa Pancasila, Verga Aziz
© Copyright 2022 - JEJAKKASUSGROUP.CO.ID