Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 24 Februari 2026
Kesendirian adalah panggung sunyi di mana manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, tanpa topeng, tanpa sorak sorai. "Ketika engkau sendirian, engkau adalah dirimu yang sejati" (Fromm, 2021). Dalam kesendirian, kita merasakan denyut eksistensi yang paling jernih, namun juga menghadapi bayangan ketakutan yang paling pekat. Kebahagiaan dalam kesendirian bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan seni merayakan keutuhan diri; menerima sepenuhnya baik sisi terang maupun sisi gelap diri.
Namun, paradoks muncul ketika manusia mencari kebahagiaan dalam kebersamaan. "Ketika engkau berada dalam keramaian, engkau adalah ilusi identitasmu, peranmu, dan kepentinganmu" (Goffman, 2019). Identitas sosial adalah topeng peran yang kita kenakan agar diterima, agar tujuan dan keinginan kita tercapai, namun topeng itu bisa menjauhkan kita dari inti keaslian; diri sejati. Kebersamaan sering kali menuntut kompromi atas kejujuran batin dan kebutuhan sosial, sehingga manusia hidup dalam tarik-menarik antara kesejatian diri dan peran sosial.
Psikologi modern menegaskan bahwa kemampuan menikmati kesendirian adalah indikator kesehatan mental. "Jika engkau tidak mampu duduk hening dalam kesendirian, engkau akan selalu merasa kesepian" (Winnicott, 2020). Kesepian bukanlah ketiadaan orang lain, melainkan ketiadaan hubungan dengan diri sejati. Kesendirian yang diterima dengan damai akan membuka ruang refleksi, yang akan melahirkan kapasitas untuk mencintai orang lain dengan lebih tulus.
Dalam konteks sosial, kebahagiaan bersama tidak pernah lepas dari kualitas kebahagiaan individu. "Jika engkau bisa bahagia sendiri, engkau bisa bahagia bersama; jika engkau tidak bisa bahagia sendiri, engkau akan mengalami kesulitan untuk bisa bahagia dalam kebersamaan" (Bauman, 2022). Kebersamaan kadang menjadi pelarian dari kesendirian, namun pelarian itu rapuh, karena kebahagiaan yang tidak berakar pada diri sendiri mudah runtuh ketika kepentingan dari kebersamaan tidak tercapai atau hilang.
Pandangan eksistensialisme menambahkan dimensi yang lebih dalam: manusia ditakdirkan untuk menghadapi kesendirian sebagai kondisi ontologis. "Kesendirian adalah ruang di mana manusia berjumpa dengan absurditas hidup dan kebebasan memilih" (Sartre, 2018). Dalam eksistensialisme, kebahagiaan bukanlah hasil dari pelarian menuju keramaian, melainkan keberanian untuk berdiri sendiri menghadapi dan menanggung beban eksistensi. Dengan kemampuan menerima kesendirian, manusia akan memiliki ruang untuk memandang dirinya apa adanya, akan memiliki jeda untuk menanggalkan topeng-topeng peran yang ia kenakan dalam kebersamaan, akan menemukan makna dari pembebasan diri.
Konklusi dari refleksi ini adalah bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kemampuan berdamai dengan kesendirian. "Kebersamaan yang sehat hanya mungkin jika kesendirian telah diterima" (Frankl, 2019). Kesendirian bukanlah musuh, melainkan guru yang mengajarkan keutuhan. Dengan menerima kesendirian, manusia akan mengalami keterpenuhan, tidak lagi mencari pelarian dalam keramaian.
Pada akhirnya, kita diajak untuk merenung: kesendirian adalah cermin yang paling jujur, sementara kebersamaan adalah panggung pertunjukan topeng kepentingan yang paling ramai. Jika kita tidak mampu berdiri tegak dalam kesendirian, maka keramaian hanya akan menambah rasa sepi dan kekurangan. Namun jika kita mampu merayakan kesendirian, maka kebersamaan akan menjadi simfoni yang indah dalam rasa keterpenuhan, bukan rasa kekurangan dan ilusi pemenuhan yang menipu. Di sanalah manusia mengalami pembebasan dan menemukan kebebasan: bahagia dalam sunyi, bahagia dalam ramai, bahagia dalam dirinya sendiri.
Referensi:
• Fromm, E. (2021). The Art of Loving. London: Bloomsbury.
• Goffman, E. (2019). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books.
• Winnicott, D. W. (2020). The Maturational Processes and the Facilitating Environment. London: Routledge.
• Bauman, Z. (2022). Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds. Cambridge: Polity Press.
• Sartre, J. P. (2018). Being and Nothingness. London: Routledge.
• Frankl, V. E. (2019). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis Husin Allahdji


Social Header