Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 5 Mei 2026.
Kesalehan yang sebenarnya bukanlah sekedar tentang membaca, menghafal, membicarakan teks suci, mengucapkan ratusan atau ribuan kata yang sama, ritual ibadah atau kepatuhan terhadap aturan moral; ia adalah seni mengelola lanskap batin—mengatur gambar dan suara yang berputar di dalam pikiran. Sebab gambar dan suara di pikiran itulah benih kebahagiaan maupun penderitaan, kebaikan maupun kejahatan. Di ruang sunyi kesadaran, manusia terus menonton film yang tak pernah berhenti: potongan kenangan, bayangan masa depan, dan narasi yang berbisik tanpa henti. Pada dasarnya, kekecewaan, kemarahan, sakit hati, dendam, iri-dengki, maupun nafsu-nafsu, kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, kerakusan, niat jahat, hadir dalam bentuk gambar dan suara di dalam pikiran. Kehadiran gambar dan suara gelap yang intens dan berulang-ulang dapat menimbulkan gangguan secara energetik maupun fisik, yang kemudian membentuk pola perilaku obsesif, agresif secara verbal maupun fisikal. “Gambar dan narasi yang hadir di pikiran adalah bentuk representasi mental yang memengaruhi emosi dan perilaku,” (Kosslyn, 2006). Ketika gambar itu gelap dan suara di kepala penuh kecemasan, ketakutan, kemarahan, kerakusan, manusia kehilangan kendali atas dirinya. Gambar dan suara negatif itu biasa disebut sebagai kotoran batin, yang menimbulkan gangguan atau hambatan. Gambar dan suara negatif itulah sebenarnya yang menjadi hijab atau tabir penghalang antara manusia dan Tuhan (Kesadaran Tertinggi). Maka kesalehan, dalam makna terdalamnya, adalah kemampuan untuk menata layar batin agar cahaya kesadaran tetap menyala. Saat sadar akan gambar dan suara pikiran itulah kita sedang berada di atas pikiran, sedang menjadi “bukan pikiran”, sedang menjadi “Kesadaran Tertinggi”, yang adalah “Diri Sejati”. Dan menjadi sadar (eling, terjarak, distant) akan gambar dan suara itu, serta tidak larut tergulung olehnya dari waktu ke waktu itulah pencerahan, pembebasan, moksha, nirwana, surga.
Dalam psikologi kognitif, pikiran manusia bekerja melalui sistem visual dan verbal internal. “Pikiran menghasilkan citra mental dan dialog batin yang membentuk persepsi terhadap realitas,” (Paivio, 2014). Ketika seseorang tidak mampu mengelola dua sistem ini, ia menjadi tawanan pikirannya sendiri. Di sinilah muncul konsep spiritual tentang “setan” atau “iblis”—bukan makhluk eksternal, melainkan simbol dari gambar dan suara destruktif yang menguasai pikiran. Dalam konteks neuropsikologi, “aktivasi berulang dari citra negatif meningkatkan stres dan menurunkan kapasitas regulasi emosi,” (Holmes & Mathews, 2010). Maka, melatih kesalehan berarti melatih kesadaran untuk mengenali dan menata ulang gambar serta narasi yang muncul di dalam diri.
Kesalehan sejati bukanlah penolakan terhadap pikiran, melainkan pengamatan yang jernih terhadapnya. “Kesadaran penuh (mindfulness) memungkinkan individu mengamati isi pikiran tanpa terjebak di dalamnya,” (Kabat Zinn, 2020). Ketika seseorang mampu melihat gambar dan suara batinnya tanpa mengidentifikasi diri dengannya, ia menemukan jarak antara pengamat dan yang diamati. Di ruang itu, muncul kebebasan. Kesalehan menjadi bukan sekadar keyakinan, tetapi keterampilan mental untuk menjaga agar pikiran tidak menjadi medan perang antara cahaya dan bayangan.
Konklusinya, kesalehan adalah bentuk manajemen kesadaran. Ia bukan hanya tentang peribadatan atau larangan, tetapi tentang kemampuan mengatur sistem visual dan verbal internal agar selaras dengan nilai-nilai luhur. “Regulasi kognitif yang berlandaskan kesadaran spiritual meningkatkan kesejahteraan psikologis dan moralitas prososial,” (Tang et al., 2015). Dengan demikian, kesalehan adalah disiplin batin yang mengubah pikiran menjadi ruang yang bersih dari gangguan, tempat di mana gambar dan suara bekerja untuk kebaikan, bukan untuk menjerumuskan.
Pada akhirnya, manusia tidak sedang berperang dengan makhluk di luar dirinya, tetapi dengan bayangan yang ia ciptakan sendiri di dalam pikirannya. Setan dan malaikat hidup di layar batin yang sama—dibentuk oleh gambar dan suara yang kita pilih untuk percaya. Kesalehan adalah kemampuan untuk memilih gambar yang menenangkan dan suara yang menuntun, agar pikiran menjadi tempat suci bagi kesadaran. Dan mungkin, di titik ketika pikiran menjadi jernih, manusia menemukan bahwa Tuhan tidak pernah jauh; Ia selalu hadir di antara jeda dua pikiran yang tenang.
Referensi:
• Holmes, E. A., & Mathews, A. (2010). Mental Imagery in Emotion and Emotional Disorders.
• Kabat Zinn, J. (2020). Mindfulness for Beginners.
• Kosslyn, S. M. (2006). The Representation of Visual Mental Imagery in the Brain.
• Paivio, A. (2014). Dual Coding Theory and the Human Mind.
• Tang, Y. Y., et al. (2015). The Neuroscience of Mindfulness Meditation.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives”
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header