Breaking News

DOA MUNGKIN TIDAK MENGUBAH DUNIA, TETAPI MENGUBAH MANUSIA DALAM MENGHADAPI DUNIA


Melalui: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 27 April 2026

Dalam gelap yang tak sepenuhnya dapat dipahami, manusia menengadahkan tangan dan membisikkan doa—bukan karena ia tahu apa yang akan terjadi, tetapi karena ia tidak sanggup menanggung ketidakpastian sendirian. Doa lahir dari ruang paling rapuh dalam diri manusia, ruang tempat harapan dan ketakutan saling berpelukan. “Doa muncul ketika situasi terlalu kompleks untuk dikendalikan,” tulis Pargament (1997), dan di sanalah manusia menemukan kenyamanan dalam bayangan campur tangan ilahi. Bukan kepastian yang dicari, melainkan ketenangan. Bukan jawaban yang ditunggu, melainkan rasa bahwa ia tidak sendirian menghadapi dunia.

Dalam psikologi agama, doa dipahami sebagai bentuk “emotion-focused coping”; sebuah strategi untuk mengelola tekanan emosional ketika masalah tidak dapat dipecahkan secara langsung. “Doa membantu individu mengurangi kecemasan dengan menciptakan persepsi bahwa ada kekuatan lain yang mendukungnya,” (Ano & Vasconcelles, 2005). Otak manusia tidak membedakan apakah narasi itu nyata atau ilusi; yang penting adalah efeknya terhadap keseimbangan internal. Ketika doa menurunkan kortisol (hormon stres) dan meningkatkan dopamine (hormon kebahagiaan), tubuh menganggapnya sebagai mekanisme penyelamatan.

Neurosains modern menunjukkan bahwa praktik spiritual, termasuk doa, mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan rasa aman dan keterhubungan. “Aktivitas pada sistem limbik selama doa menurunkan respons stres dan meningkatkan ketenangan,” (Newberg & Waldman, 2016). Dengan kata lain, doa bertahan ribuan tahun bukan karena ia selalu efektif secara objektif, tetapi karena ia efektif secara biologis. Ia menenangkan badai di dalam, meski badai di luar tetap bergemuruh.

Dalam teori coping Lazarus & Folkman (1984), manusia menggunakan dua jalur utama untuk menghadapi stres: “problem-focused coping dan emotion-focused coping. Doa termasuk kategori kedua, karena ia tidak mengubah situasi, tetapi mengubah cara manusia merasakannya. “Emotion-focused coping bertujuan mengurangi penderitaan emosional ketika masalah tidak dapat dikendalikan,” tulis mereka. Dalam konteks ini, doa menjadi alat adaptasi yang sangat kuat—bukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi untuk menjaga kewarasan.

Doa dalam agama juga menawarkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh strategi koping lain: imbalan tak terbatas. “Janji kehidupan setelah mati memberikan makna pada penderitaan duniawi,” (Hood, Hill, & Spilka, 2018). Ini menjadikan doa sebagai mekanisme psikologis yang bukan hanya meredakan stres, tetapi juga memberi narasi besar yang membuat penderitaan terasa dapat ditanggung. Bagi otak, makna adalah obat.

Pada akhirnya, doa adalah cermin dari kebutuhan terdalam manusia: kebutuhan untuk merasa aman, terhubung, dan dimengerti. Ia bukan bukti campur tangan Tuhan, tetapi bukti bahwa manusia membutuhkan sesuatu untuk bertahan. Doa mungkin tidak mengubah dunia, tetapi ia mengubah manusia yang menghadapi dunia. Dan mungkin, di situlah keajaibannya—bukan pada jawaban yang turun dari langit, tetapi pada ketenangan yang tumbuh di dalam diri.

------SELESAI------

Referensi:
• Ano, G. G., & Vasconcelles, E. B. (2005). Religious coping and psychological adjustment. Journal of Clinical Psychology.
• Hood, R. W., Hill, P. C., & Spilka, B. (2018). The Psychology of Religion: An Empirical Approach. Guilford Press.
• Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer.
• Newberg, A., & Waldman, M. (2016). How Enlightenment Changes Your Brain. Penguin.
• Pargament, K. I. (1997). The Psychology of Religion and Coping. Guilford Press.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives” 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis

© Copyright 2022 - JEJAKKASUSGROUP.CO.ID