Breaking News

KECANDUAN BERPIKIR DAN SEMAKIN JAUHNYA SUWUNG


Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma – Queensland, 14 Maret 2026

Manusia modern hidup dalam pusaran pikiran yang tak pernah berhenti—arus deras yang mengalir bahkan ketika tubuh ingin beristirahat. Pikiran menjadi candu halus, yang membuat manusia merasa “ada” hanya ketika ia berpikir, seperti diungkapkan dan diwabahkan oleh René Descartes. Dalam keheningan, manusia gelisah; dalam diam, ia takut; dalam suwung (kekosongan), ia merasa hilang. Padahal justru di ruang kosong itulah dirinya yang sejati menunggu. Banyak tradisi kontemplatif menegaskan bahwa “pikiran yang terus bergerak menciptakan ilusi keberadaan yang palsu” (Gunaratana, 2015). Maka tidak mengherankan bila manusia mengejar distraksi, hiburan, dan kebisingan batin—semua demi menghindari perjumpaan dengan kekosongan yang sebenarnya adalah rumahnya sendiri.

Budaya hiburan global tumbuh subur karena manusia tidak tahan berada tanpa pikiran. Penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa “otak manusia cenderung mencari stimulasi terus-menerus untuk menghindari rasa bosan” (Eastwood et al., 2012). Rasa bosan bukan sekadar kekosongan aktivitas, tetapi ketidakmampuan untuk duduk bersama diri sendiri tanpa gangguan. Ketika pikiran berhenti, muncul kecemasan eksistensial yang membuat manusia bergegas mencari pelarian: layar, percakapan, makanan, aktivitas, apa saja yang dapat mengisi ruang kosong itu. Maka suwung, sunyata, nothingness—yang diajarkan oleh banyak tradisi spiritual—menjadi terasa jauh, asing, dan sulit dicapai.

Dalam ilmu saraf, kecanduan berpikir dapat dipahami sebagai aktivitas berlebihan dari default mode network (DMN), jaringan otak yang aktif ketika seseorang melamun atau memikirkan dirinya sendiri. Studi mutakhir menemukan bahwa “DMN yang hiperaktif berkaitan dengan kecemasan, ruminasi, dan ketidakmampuan untuk hadir di alam nyata” (Brewer et al., 2019). Artinya, manusia bukan hanya terbiasa berpikir; ia terperangkap dalam pola pikir otomatis yang membuatnya sulit memasuki keheningan. Pikiran menjadi mesin yang terus menyala, bahkan ketika tidak dibutuhkan.

Kecanduan berpikir juga menciptakan budaya distraksi. Ketika manusia tidak mampu berhenti, ia mencari apa pun yang dapat mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri. Literatur psikologi sosial menyatakan bahwa “distraksi menjadi mekanisme pertahanan untuk menghindari ketidaknyamanan batin” (Kross & Ayduk, 2017). Maka hiburan bukan sekadar hiburan; ia menjadi pelarian kolektif dari keheningan. Suwung menjadi sesuatu yang tampak mistis, padahal ia hanyalah kemampuan untuk berada di celah—celah antara pikiran, celah antara napas, celah antara dorongan tubuh.

Pada akhirnya, semua ajaran spiritual dari berbagai bangsa mengarah pada satu latihan sederhana: menemukan jeda. Jeda antara dua pikiran. Jeda antara stimulus dan respons. Jeda antara dorongan dan tindakan. Penelitian mindfulness menegaskan bahwa “ketika jeda diperluas, kapasitas kesadaran meningkat dan pikiran kehilangan dominasinya” (Keng, Smoski, & Robins, 2011). Suwung bukanlah keadaan kosong yang menakutkan, tetapi ruang di mana manusia dapat melihat dirinya tanpa kabut pikiran.

Pada akhirnya, suwung adalah keberanian untuk berhenti. Sunyata adalah kemampuan untuk hadir tanpa harus menjadi apa pun. Nothingness adalah ruang di mana manusia menemukan bahwa dirinya tetap ada meski pikirannya diam. “Keheningan adalah tempat manusia kembali mengenali dirinya” (Nhat Hanh, 2017). Ketika seseorang mampu tinggal di ruang itu walau hanya sekejap, ia menemukan bahwa dirinya bukanlah pikiran yang terus bergerak, melainkan kesadaran yang menyaksikan semuanya. Dan di sanalah kebebasan bermula—di dalam jeda yang selama ini kita hindari.

Referensi:
• Brewer, J. A., et al. (2019). Mindfulness training and default mode network regulation.
• Eastwood, J. D., et al. (2012). The unengaged mind: Defining boredom in terms of attention.
• Gunaratana, B. (2015). The Four Foundations of Mindfulness.
• Keng, S., Smoski, M., & Robins, C. (2011). Effects of mindfulness on psychological well-being.
• Kross, E., & Ayduk, O. (2017). Self-distancing and emotional regulation.
• Nhat Hanh, T. (2017). Silence: The Power of Quiet in a World Full of Noise.
________________________________________
“MPK’s Literature-based Perspectives” 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis
© Copyright 2022 - JEJAKKASUSGROUP.CO.ID