Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 27 Februari 2026
Ada masa ketika cinta tanah air diukur dari langkah kaki yang kembali, bukan dari jejak karya yang tersebar. Seolah-olah nasionalisme adalah dinding yang menahan, bukan jendela yang mengalirkan udara baru yang menyegarkan. Namun dunia telah berubah. Batas geografis tak lagi menjadi penentu kontribusi. Seperti angin yang tak terlihat namun terasa, pengabdian kini bisa hadir dari mana saja, kapan saja. “Era digital telah mengubah paradigma kehadiran fisik menjadi kehadiran makna,” tulis Castells (2010), menegaskan bahwa nasionalisme hari ini tak lagi terikat pada tanah yang dipijak, melainkan pada dampak yang dicipta.
Program beasiswa LPDP, dengan skema pengabdian karya kembali 2n+1 yang mewajibkan kehadiran fisik di Indonesia, kini menghadapi tantangan relevansi. “Kebijakan mobilitas akademik harus adaptif terhadap realitas global dan digital,” ujar Marginson (2019). Banyak awardee yang justru memberi kontribusi monumental dari luar negeri: memenangi penghargaan ilmiah, menjalin kolaborasi riset, mencipta patent, dan membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Banyak contoh nyata mahasiswa yang S2-nya didanai oleh LPDP, lalu meski S3-nya didanai negara lain, mereka tetap menjalin kerja sama penelitian dan pelatihan dengan banyak universitas/lembaga di Indonesia, dan mengharumkan nama NKRI melalui penghargaan-penghargaan yang dimenangkan di dalam konferensi-konferensi ilmiah internasional. Bahkan setelah sepenuhnya bekerja di luar negeri, setelah memenuhi kewajikan pengabdian di NKRI, mereka tetap memberi dampak positif dan mengharumkan nama bangsa ini.
Kontribusi seperti ini bukan hal baru, hanya saja untuk memandangnya memerlukan cara pandang yang lebih kontekstual terhadap perkembangan jaman. “Diaspora akademik memainkan peran strategis dalam pembangunan ilmu pengetahuan nasional melalui jejaring global” (Gaillard & Tullberg, 2001). Mereka menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia, membuka akses terhadap sumber daya, teknologi, dan perspektif baru. Kehadiran fisik menjadi sekunder; yang utama adalah kehadiran intelektual dan emosional, dan dampak positif terhadap bangsa.
Paradigma lama tentang pengabdian perlu diperluas. “Kontribusi terhadap negara tidak harus berbentuk keberadaan fisik, tetapi bisa berupa transfer pengetahuan, reputasi, dan inovasi lintas batas” (OECD, 2021). Dalam konteks ini, LPDP perlu membuka ruang bagi bentuk-bentuk pengabdian yang lebih fleksibel dan kontekstual. Nasionalisme bukan hanya tentang kembali, tetapi tentang menciptakan dan menyumbangkan dampak positif yang lebih besar kepada NKRI.
Pengabdian kepada NKRI tidak harus dibatasi oleh koordinat geografis. Ia bisa hadir dalam bentuk karya, kolaborasi, dan reputasi yang menjalar ke seluruh penjuru dunia. LPDP sebagai program strategis perlu menyesuaikan diri dengan realitas baru ini, agar tidak kehilangan relevansi dan potensi.
Dan akhirnya, kita bisa belajar bahwa cinta tanah air bukanlah soal di mana tubuh berada, tetapi di mana hati dan pikiran berlabuh, untuk siapa karya dipersembahkan. Seperti akar yang menjalar di bawah tanah, kontribusi bisa tumbuh di tempat yang tak terlihat, namun memberi kehidupan. Nasionalisme sejati adalah keberanian untuk tetap terhubung, meski berpijak di tanah yang berbeda. Ia adalah kesetiaan yang tidak dibatasi oleh tempat, tetapi kesetiaan yang ditegaskan oleh makna, dibuktikan dengan karya, dari dan di mana saja.
Referensi:
• Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society. Oxford: Blackwell.
• Marginson, S. (2019). “Global Trends in Higher Education: The Role of International Mobility.” Higher Education Quarterly, 73(2), 141–157.
• Gaillard, J., & Tullberg, A. (2001). “Diaspora Knowledge Networks: Bridging the Gap Between Home and Host Countries.” Science and Public Policy, 28(6), 465–473.
• OECD. (2021). International Mobility of Researchers: Policy Trends and Challenges. Paris: OECD Publishing.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header