Breaking News

MENINJAU MAKNA NASIONALISME MELALUI PILIHAN DIASPORA


Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 26 Februari 2026

Ada saat ketika cinta tanah air dipaksa tunduk pada simbol, bukan pada substansi. Seperti daun yang dianggap lebih penting daripada akar, kita sering menilai nasionalisme dari paspor, bukan dari denyut kehidupan yang terus dibawa seseorang ke mana pun ia berpijak. Pilihan Dwi Sasetiyaningtyas, sebagaimana muncul dan dibahas di banyak media, untuk memberi anaknya kewarganegaraan Inggris bukanlah pengkhianatan, melainkan sebuah metafora tentang orang tua yang ingin jendela rumah anaknya lebih besar daripada pintunya sendiri. “Mobilitas bukan penolakan, melainkan ekspansi kemungkinan,” sebuah gagasan yang menegaskan bahwa cinta tanah air tidak harus statis, tetapi bisa dinamis, berakar sekaligus menjalar (Appadurai, 1996).

Dalam perspektif global, keputusan Dwi mencerminkan logika universal: orang tua selalu ingin anaknya memiliki peluang lebih luas. “Migrasi transnasional membuka akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan jejaring global yang memperkuat kapasitas individu dan komunitas” (Faist, 2010). Dengan demikian, pilihan kewarganegaraan bukan sekadar administrasi, melainkan strategi untuk memperluas horizon hidup.

Nasionalisme yang sehat tidak boleh terjebak pada eksklusivitas. “Nasionalisme modern adalah konstruksi yang fleksibel, mampu beradaptasi dengan mobilitas global tanpa kehilangan identitas” (Anderson, 2006). Artinya, cinta tanah air bisa tetap hidup meski seseorang memilih jalur berbeda. Identitas tidak hilang karena berpindah, melainkan justru diperkuat oleh pengalaman lintas batas.

Kontribusi diaspora sering kali lebih signifikan daripada sekadar tinggal. “Diaspora berperan sebagai agen pembangunan melalui transfer pengetahuan, modal sosial, dan jejaring internasional” (World Bank, 2020). Dalam konteks ini, keputusan Dwi bisa dibaca sebagai investasi jangka panjang: anaknya kelak akan membawa perspektif global yang dapat memperkaya Indonesia, meski paspor mereka berbeda.

Kritik terhadap Dwi sesungguhnya mencerminkan rapuhnya rasa kolektif kita. “Seringkali yang terluka bukan negara, melainkan ekspektasi masyarakat terhadap kesetiaan simbolik” (Smith, 2010). Kita ingin diaspora sukses, tetapi tetap terasa milik kita. Kita ingin anak-anak bangsa ini “going global”, tetapi tetap milik lokal. Padahal, cinta tanah air tidak bisa dipatok hanya pada satu bentuk kesetiaan.

Pilihan Dwi bukanlah penolakan terhadap Indonesia, melainkan cara lain untuk mencintainya: dengan memberi anaknya ruang untuk tumbuh dalam ekosistem global. Tinggal, kontribusi, dan identitas adalah tiga dimensi cinta negara yang saling melengkapi. Menolak salah satunya berarti menyempitkan makna nasionalisme itu sendiri.

Di sini, kita belajar bahwa cinta tanah air bukan pagar yang membatasi, melainkan akar yang menumbuhkan. Ia bukan sekadar soal di mana kaki berpijak, tetapi apa yang tetap kita bawa ketika berpindah. Pilihan Dwi adalah cermin dari keberanian untuk tetap berakar, meski angin membawa ranting ke arah lain. Dalam refleksi ini, kita mendapati bahwa nasionalisme sejati bukanlah ketakutan ditinggalkan, melainkan keyakinan bahwa akar akan selalu kembali memberi kehidupan, meski cabang tumbuh di langit yang berbeda.

Referensi:
• Appadurai, A. (1996). Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalization. Minneapolis: University of Minnesota Press.
• Faist, T. (2010). “Transnationalization and Development: Toward an Alternative Agenda.” Development, 53(1), 56–62.
• Anderson, B. (2006). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.
• World Bank. (2020). Leveraging Economic Migration for Development: A Global Perspective. Washington, DC: World Bank Publications.
• Smith, A. D. (2010). Nationalism: Theory, Ideology, History. Cambridge: Polity Press.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives" 
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)

Editor : Nofis
© Copyright 2022 - JEJAKKASUSGROUP.CO.ID