Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 1 Maret 2026
Di panggung semesta yang tak bertepi, kehidupan adalah tarian cahaya dan bayang, permainan Ilahi, divine play, senda-guraunya Tuhan, yang disebut lila—bukan proyek, bukan tugas, bukan beban. Namun manusia, sang mikroba yang mendiami debu kosmis yang dinamai bumi, merasa harus menjadi pusat cerita. Ia menciptakan misi, tujuan, pekerjaan, dan makna, seolah semesta adalah manajer proyek yang menunggu laporan progresnya, dan malaikat seisi langit sebagai pengawas proyek yang mengukur setiap jengkal kegiatan manusia. “Manusia adalah makhluk yang terlalu serius dalam permainan yang seharusnya ringan,” tulis Watts (1973), mengingatkan bahwa kita sering lupa: kita bukan pusat semesta, kita hanya partikel, makhluk miskrokopis dalam tarian kosmis semesta tak bertepi.
Lila adalah ekspresi Tuhan yang bermain, having fun, bukan mengatur. “Tuhan tidak mengendalikan, tetapi menari bersama ciptaan-Nya,” ujar Sharma (2011). Namun manusia merasa Tuhan hanya sibuk mengawasi dirinya, mengatur langkahnya, menilai setiap geraknya. Padahal, dalam skala kosmis, manusia adalah jasad renik yang bahkan tak terlihat. Kita hidup di planet kecil, mengitari bintang biasa, di galaksi yang hanyalah satu titik debu dalam lautan tak terhingga.
Ilusi makna sering lahir dari ketakutan akan ketidakberartian. “Manusia menciptakan struktur makna untuk melawan absurditas eksistensial,” tulis Camus (1942). Maka diciptakanlah misi hidup, profesi, jabatan, pekerjaan, tugas, panggilan hidup, sekolah, strata dan aturan sosial—semua demi merasa penting. Tapi apakah semesta benar-benar peduli? Ataukah kita hanya menari di panggung kecil, sementara bintang-bintang terus bersinar tanpa tahu siapa kita?
Dalam era modern, pencarian makna menjadi industri. “Psikologi positif, pendidikan agama dan spiritualitas kontemporer sering kali memperkuat ilusi bahwa hidup harus punya tujuan besar,” kata Wong (2020). Jaggi Dev (2018) menambahkan, “Hidup bukanlah proyek yang harus diselesaikan, melainkan tarian yang harus dinikmati.” Padahal, mungkin yang dibutuhkan bukan makna, tetapi kehadiran penuh di seluruh episode tarian pengalaman hidup. Bukan misi, tetapi kesadaran bahwa kita sedang bermain dalam tarian ilahi.
Konklusinya, manusia perlu belajar merendah di hadapan semesta. Bukan dengan menyerah, tetapi dengan menyadari bahwa tidak semua harus dijelaskan, dimaknai, atau dikendalikan. Hidup bukan proyek, melainkan pengalaman. Kita bukan pusat, tetapi bagian. Dan mungkin, justru dalam kesadaran akan ketidakberartian, kita menemukan kebebasan yang sejati.
Akhirnya, kita kembali pada panggung tarian ilahi. Di sana, Tuhan bukan penguasa, tetapi penari. Dan kita bukan hamba, tetapi mitra dalam tarian. Maka mari kita menari, bukan karena harus, tetapi karena bisa. Biarlah kita hidup, bukan karena penting, tetapi karena indah. Dalam kesadaran bahwa kita hanyalah debu yang menari dalam cahaya, kita menemukan makna yang tak perlu dijelaskan—karena ia sudah cukup dengan keberadaannya.
Referensi:
• Watts, A. (1973). The Book: On the Taboo Against Knowing Who You Are. New York: Vintage Books.
• Sharma, C. (2011). A Critical Survey of Indian Philosophy. Delhi: Motilal Banarsidass.
• Camus, A. (1942). Le Mythe de Sisyphe. Paris: Gallimard.
• Wong, P. T. P. (2020). “Second Wave Positive Psychology: Embracing the Dark Side of Life.” Canadian Psychology, 61(3), 186–193.
• Dev, J. (2018). Life is Not a Project: Spiritual Reflections on Being. New Delhi: Wisdom Tree.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis


Social Header