Oleh: Prof Makin Perdana Kusuma - Depok, 22 Februari 2026
Seperti embun yang jatuh di pagi hari, ibadah sejatinya bukanlah mata uang yang ditukar dengan keberuntungan, melainkan cahaya yang menembus kabut batin. "Ibadah adalah jalan untuk menata kesadaran, bukan sekadar permintaan akan perubahan nasib." Dalam ruang sunyi doa, manusia sering tergoda untuk bernegosiasi dengan Tuhan, berharap setiap sujud, setiap sedekah menjadi tiket menuju kesuksesan, kekayaan, dan kejayaan. Namun, hakikat spiritualitas tidak terletak pada transaksi, melainkan pada transformasi: bagaimana jiwa belajar menerima badai dengan senyum, dan menatap luka dengan keberanian, menyambut datangnya kenikmatan dengan ketakziman. (Rahman, 2023).
"Ibadah dan kedermawanan adalah proses internalisasi nilai, bukan instrumen manipulasi realitas eksternal." Banyak penelitian psikologi agama menunjukkan bahwa praktik spiritual lebih berpengaruh pada cara pandang individu terhadap penderitaan, bukan pada hilangnya penderitaan itu sendiri (Koenig, 2022). Dengan kata lain, doa tidak menghapus masalah, tetapi mengubah cara kita memandang masalah. Kedermawanan pun demikian: bukan untuk menambah harta, melainkan untuk menumbuhkan rasa cukup dan syukur yang membahagiakan serta menyehatkan.
Dalam perspektif sosiologi agama, "ritual keagamaan berfungsi sebagai mekanisme pembentukan identitas dan solidaritas sosial" (Durkheim, 1912/2014). Ketika ibadah dipahami sebagai transaksi, maka ia kehilangan makna sosialnya. Tetapi ketika dipahami sebagai transformasi, ia menjadi energi yang memperkuat ikatan antar manusia, menumbuhkan empati, dan mengurangi egoisme.
Kajian neuropsikologi mutakhir menegaskan bahwa "praktik spiritual mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan regulasi emosi dan empati" (Newberg & Waldman, 2018). Artinya, ritual ibadah, sedekah bukanlah alat untuk mengubah dunia luar, melainkan untuk menata dunia dalam. Dengan kesadaran yang lebih tenang, manusia mampu menghadapi realitas dengan sikap positif, bahkan dalam keterbatasan dan kesulitan.
Lebih jauh lagi, cara kita memandang dan menyikapi peristiwa kehidupan adalah jalan untuk mengenali dan mengalami Tuhan. "Tuhan bukan hanya objek doa, tetapi subjek yang hadir dalam cara kita meresapi kenyataan." Ketika kita bersikap sabar dalam kesulitan, bersyukur dalam kelapangan, dan ikhlas dalam kehilangan, di sanalah Tuhan hadir—bukan sebagai jawaban, tetapi sebagai pengalaman. Spiritualitas bukan sekadar pencarian, tetapi perjumpaan yang terjadi dalam sikap batin terhadap hidup. (Nasr, 2015).
Berhenti bertransaksi dengan Tuhan berarti berhenti menjadikan ritual ibadah dan sedekah sebagai alat tawar-menawar. "Ibadah adalah ruang refleksi, bukan ruang negosiasi." (Nasr, 2015). Dan bagi jiwa yang tekun berefleksi, gelaran segala peristiwa kehidupan adalah pintu perjumpaan dengan-Nya. Dengan demikian, kedermawanan dan doa menjadi jalan untuk memperhalus jiwa, demi perjumpaan dengan-Nya. Spiritualitas sejati adalah tentang menerima, bukan menuntut maupun menentang; tentang memberi dengan cinta kasih, bukan menghitung untung. Tentang perjumpaan, bukan kekayaan maupun kejayaan.
Dan akhirnya, seperti senja yang perlahan meredup, ibadah adalah seni merangkul ketidakpastian hidup dengan hati yang lapang. Ia bukan janji akan kemudahan, melainkan pelajaran tentang keberanian dan keikhlasan, dan perjumpaan. "Berhenti bertransaksi dengan Tuhan adalah langkah menuju kebebasan batin dan perjumpaan dengan-Nya." Di sana, manusia menemukan bahwa yang berubah bukanlah dunia, melainkan cara kita memandang dunia. Dan dalam perubahan pandangan itu, lahirlah kebahagiaan yang tak tergantung pada hasil, melainkan pada sikap. (Eliade, 1959/2009).
Referensi:
• Durkheim, É. (2014). The Elementary Forms of Religious Life (Original work published 1912). Oxford University Press.
• Eliade, M. (2009). The Sacred and the Profane (Original work published 1959). Harcourt.
• Koenig, H. G. (2022). Religion and Mental Health: Research and Clinical Applications. Academic Press.
• Nasr, S. H. (2015). Islamic Spirituality: Foundations. Routledge.
• Newberg, A., & Waldman, M. R. (2018). How God Changes Your Brain. Ballantine Books.
• Rahman, F. (2023). Spiritual Practices and Human Resilience. Journal of Religious Studies, 45(2), 123–140.
________________________________________
"MPK’s Literature-based Perspectives"
Turning Information into Knowledge – Shaping Knowledge into Insight
________________________________________
(Keterangan Keterbukaan: Ide pokok artikel didapatkan dari pengamatan di dunia maya dan pengalaman di dunia nyata. Konteks, kerangka pemikiran, format, alur dan gaya bahasa dikembangkan oleh penulis. Bahan dirangkai, disusun, dan diperkaya menggunakan AI. Gambar pendukung dibuat dengan AI)
Editor : Nofis Husin Allahdji


Social Header