Banyuwangi, (Jejak Kasus Group.co.id) Aktivis Filsafat Logika Berpikir, Raden Teguh Firmansyah, melontarkan kritik keras terhadap Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, terkait lambannya penyelesaian pembangunan masjid di lingkungan Pemerintah Daerah Banyuwangi yang hingga kini belum rampung kurang lebih selama satu tahun.
Menurut Raden Teguh Firmansyah, keterlambatan tersebut patut diduga bukan semata persoalan teknis, melainkan berkaitan dengan pengendalian kekuasaan dan kepentingan non-substantif dalam pengelolaan anggaran publik.
Ia menilai bahwa posisi strategis Mujiono dalam struktur pemerintahan daerah memberi pengaruh besar terhadap arah dan prioritas pembangunan, termasuk proyek masjid tersebut.
“Dalam logika kekuasaan, pembangunan yang bernilai ibadah sering kalah cepat dibanding proyek yang bernilai pencitraan. Masjid tidak memberi panggung popularitas, tidak memproduksi sorotan prestasi politik. Maka wajar bila publik bertanya, mengapa pembangunannya justru tersendat?” ujar Raden. Saat diskusi bersama wartawan di salah satu angkringan di Banyuwangi. Sabtu. 3/1/2026.
Lebih lanjut, Raden menyampaikan dugaan bahwa anggaran pembangunan masjid tersebut berpotensi telah tergeser dari tujuan awalnya, terutama dalam momentum politik menjelang Pemilu, saat Mujiono mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati. Dugaan ini, menurutnya, muncul dari kontras yang mencolok antara cepatnya pelaksanaan berbagai agenda pencitraan dan lambannya realisasi pembangunan rumah ibadah.
“Jika event pencitraan bisa berjalan mulus dengan anggaran APBD, sementara masjid dibiarkan tertunda, maka logika publik berhak curiga. Dugaan saya, anggaran masjid itu tidak steril dari kepentingan politik elektoral,” tegasnya.
Raden menekankan bahwa kritik ini bukan tuduhan hukum, melainkan seruan moral dan rasional agar pemerintah daerah bersikap transparan dan bertanggung jawab. Ia mendesak agar pihak terkait segera membuka informasi penggunaan anggaran secara terbuka serta memberikan penjelasan resmi kepada masyarakat.
“Masjid adalah simbol amanah, bukan alat kekuasaan. Ketika rumah ibadah diperlakukan kalah penting dari panggung politik, di situlah keadilan anggaran sedang diuji,” pungkas Raden Teguh Firmansyah.
Wartawan Nasional (Edi)


Social Header