Kenapa Kemerdekaan Adalah Nikmat yang Sangat Besar?
Memperingati Hari Besar Nasional Pada Bulan Agustus 2024 adalah Hari Hajat Besar Negara dan Rakyat untuk Mensyukuri atas Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tidak sedikit anak-anak muda yang apatis pada momentum kemerdekaan Indonesia. Ada yang bilang, "buat apa merdeka kalau sekarang begini-begini saja?"
Katakan itu pada orang-orang Palestina yang untuk sekolah saja mereka berjuang sekuat tenaga sampai mengorbankan nyawa. Katakan itu pada teman-teman kita di Gaza yang rindu bisa berhaji ke Baitullah tanpa harus melewati pos-pos berlapis yang lelahnya bukan main.
Kemerdekaan itu bukan akhir, justru ia adalah awal. Namun ia adalah awal yang baik untuk bisa hidup dengan kepercayaan pada diri sendiri. Tanpa ada yang memaksa, menjajah dan mendikte hidupmu. Para pendahulu kita memperjuangkan kemerdekaan, supaya bangsa ini tak lagi menunggu keputusan ratu Belanda atau kaisar Jepang hanya untuk membangun organisasi dan lembaga pendidikan.
Agar supaya kita bisa shalat dengan khusyu tanpa ada bedil yang menodong. Bisa berangkat haji ke Baitulllah tanpa ada fitnah-fitnah miring yang diisukan penjajah. Supaya kita bisa belajar agama kita dengan sepenuhnya tanpa harus dipaksa menggunakan kurikulum barat yang menjauhkan kita dari Islam.
"Tapi, kenyataannya PR kita masih banyak kan?"
Justru itulah babak baru setelah kemerdekaan. Ia menyisakan mimpi dan harapan besar. Meskipun jarak antara impian dan realitas itu nampaknya jauh, tapi kemerdekaan itu membuat kita mampu leluasa melangkah, lebih luas berpikir dan lebih tangkas bergerak.
Iya, keadaan belum se-ideal yang kamu pikirkan, tapi bukankah masa depan kita penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang baik? Itulah mengapa ada kalimat "mengisi kemerdekaan."
Ya. Kemerdekaan itu hendaklah kau isi. Bukan kau ratapi dengan menyalahkan keadaan dan mengatakan seharusnya begini seharusnya begitu. Sudah dengan harta dan nyawa para mujahid kita melepaskan negeri ini dari rantai imperialisme. Mereka mempercayakan masa depan itu pada anak-anak cucunya, pada generasi yang datang setelah mereka.
Itulah mengapa engkau sering mendengar "Jasmerah", jangan sekali-kali melupakan sejarah. Agar apa?
Agar kau terhubung dengan masa lalumu. Agar kau bisa mengambil energi dari pejuang di zaman dulu; punya mimpi apa mereka pada negeri ini, pada bangsa ini, sampai-sampai mereka mewakafkan hidup mereka menyusuri hutan belantara melawan agresor, sampai-sampai mereka diasingkan dan diracun.
Hari ini mungkin impian tentang negeri berdaya itu belum sepenuhnya kau lihat. Kini, mungkin visi tentang peradaban yang hebat itu belum bisa kau tatap.
Tapi napas merdeka ini, ialah yang akan membuat kita terus berjalan meski terseok, mencoba terbang meski masih tak tinggi. Hingga kelak akan datang waktunya Indonesia menjadi negeri inspirasi bagi dunia, mata air peradaban yang diteladani warga bumi. Tetaplah optimis sebagaimana Rasulullah ï·º pun suka bersikap optimis.
Narasumber : @edgarhamas
Media www.jejakkasusgroup.co.id
Social Header